Selasa, 16 Oktober 2012

Makna Jima, Hubungan Suami-Isteri dan Jenisnya

Makna Jima, Hubungan Suami-Isteri dan Jenisnya


MAKNA JIMA' DAN JENISNYA

Al-Jima' secara bahasa adalah apa-apa yang mengumpulkan suatu jumlah. Adapun definisi jima' yaitu memasukan kemaluan laki-laki (dzakar) kedalam kemaluan wanita, dan memasukkan kepala dzakar itu sudah termasuk jima'.

Adapun hal-hal yang dilakukan oleh suami isteri sebelum jima', maka itu disebut pendahuluan jima', dan tidak boleh jima' kecuali pada kemaluan wanita, dan jika terjadi masuk lewat dubur, maka tidak disebut jima', tetapi penyelewengan yang disebut 'liwath'.

Jima' ada dua macam :

1. Jima' dengan Cara Halal

Yaitu yang dilakukan suami terhadap isterinya atau budaknya (bila ada budak). Maka bersenang-senang dengan isterinya atau budaknya itu halal, bahkan bagi suami-isteri tersebut mendapat pahala dalam memenuhi syahwatnya. Firman Allah SWT :
["Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Dan barangsiapa yang mencari di balik itu maka mereka itulah yang melampaui batas"] Al-Mu'minun : 5 - 7


Maknanya : tidak tercela dan tidak berdosa atas orang mukmin dalam melampiaskan syahwatnya terhadap isteri atau budak-budak yang dimiliki secara sah. Bagi orang yang meninggalkan yang halal dan pergi ke yang haram, maka orang tersebut akan di adzab, dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Telah datang hadits tentang Isra' Mi'raj bahwa Nabi SAW berjalan bersama malaikat Jibril AS di malam itu, beliau melewati suatu kaum yang di depannya ada daging yang masak dan baik di sebuah periuk, dan daging yang mentah dan buruk, akan tetapi dia memakan daging yang jelek dan bau dan meninggalkan daging yang segar dan masak. Maka Nabi r bertanya : "Apakah ini wahai Jibril?" Jibril menjawab : " Mereka adalah laki-laki dari ummatmu yang ada di sisinya isteri yang halal dan baik, lalu laki-laki itu mendatangi perempuan yang jelek, kemudian dia bermalam bersamanya sampai pagi dan perempuan yang ada di sisinya suami yang halal dan baik kemudian mendatangi laki-laki yang jelek dan bermalam dengannya sampai pagi".

Dan diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dari Abi Dzar Al-Ghifary r.a : Nabi r bersabda: "Sesungguhnya tiap-tiap tasbih dan takbir itu shodaqoh, dan tiap-tiap tahmid itu shodaqoh, dan tiap-tiap tahlil itu shodaqoh, dan menyuruh kepada yang ma'ruf itu shodaqoh dan mencegah dari yang mungkar itu shodaqoh, dan jima' terhadap isterinya itu shodaqoh". Para shohabat bertanya: "Ya Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami yang menunaikan syahwat pada isterinya, ada baginya pahala ?" Maka beliau berkata : "Bagaimana pendapatmu kalau diletakkan pada yang haram, adakah padanya dosa ?" Kami menjawab : "Ya" Beliau bersabda : "Maka begitulah, bila diletakkan pada yang halal, maka baginya pahala."

Dan diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam kitab Isrotunnisaa', dari Abu Dzar t : Nabi Saw bersabda : "Setiap pagi hari atas sendi-sendi anak cucu Adam shodaqoh". Kemudian beliau bersabda : "Engkau menyingkirkan duri dari jalan itu shodaqoh, dan ucapan salammu kepada orang-orang itu shodaqoh, dan menyuruh kepada yang ma'ruf itu shodaqoh dan engkau mencegah dari yang mungkar itu shodaqoh, dan menjima'i isterimu itu shodaqoh." Kami berkata "Wahai Rasulullah, apakah seorang laki-laki yang menunaikan syahwatnya menjadi shodaqah baginya ?" Beliau berkata : "Bukankah engkau melihat kalau seorang menunaikan syahwatnya dalam perkara yang diharamkan Allah bukankah dia mendapat dosa ? Kami berkata : "Tentu" Beliau berkata : "Maka jika syahwat itu ditunaikan dalam perkara yang halal maka merupakan shodaqoh".

2. Jima' yang Diharamkan

Yaitu yang terjadi dengan cara-cara 'zina' dan kita ketahui bahwa zina adalah dosa besar yang paling besar. Sungguh Allah Swt telah menjelaskan kekejian para pezina dalam berbagai ayat Al-Qur'an dan juga dari hadits-hadits Nabi yang mulia dan disertakan padanya ancaman yang akan menghalangi dan menjauhkan seseorang dari zina yaitu dicambuk 100 kali bagi pemuda dan pemudi, dan dirajam bagi pezina muhshon dengan batu sampai mati, dengan firman-Nya :
["Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman"] An-Nuur : 2


Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abi Hurairah r.a : Rasulullah Saw telah bersabda :
["Tidaklah seorang pezina itu berzina, tatkala dia berzina dalam keadaan mukmin, dan tidaklah seorang pencuri itu mencuri, ketika dia mencuri dalam keadaan beriman, dan tidaklah peminum khomr, ketika meminum dalam keadaan beriman"]


Dan telah datang penjelasan hadist ini dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Baihaqi, dan Hakim dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw bersabda :
["Ketika seseorang berzina keluarlah keimanan darinya dan menjadi seperti payung yang menaunginya, maka ketika dia bertaubat kembalilah iman itu masuk kepadanya"]


Dan telah menukil Imam Mundziri dalam kitab Targhib wa Tarhib, apa yang diriwayatkan oleh Hakim dan dishohihkannya dari Ibnu Abbas t dan apa yang diriwayatkan oleh Abu Ya'la dengan sanad Jayyid dari Abdullah ibnu Mas'ud bahwasanya Nabi Saw bersabda :
["Tidaklah muncul pada suatu kaum perzinahan atau riba kecuali akan ditimpakan adzab Allah Ta'ala karena perbuatan tersebut"]


Maka benarlah firman Allah Swt :
["Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk"] Al-Israa' : 32

20 LARANGAN BERJIMAK


Adapun Hadis Rasululah saw mengenai waktu waktu yang dilarang untuk berjimak yaitu:
  1. “Wahai Ali..! janganlah engkau berjima’ dengan isterimu pada awal (hari pertama) bulan, pada pertengahannya (sehari) dan pada akhir (dua hari) di hujung bulan. Maka sesungguhnya penyakit gila, gila babi dan sopak mudah mengenainya dan anaknya.” 
  2. “Wahai Ali..! janganlah berjima’ dengan isterimu selepas zuhor, sesungguhnya jika Allah s.w.t. mengurniakan kepada kamu berdua anak kerana jima’ pada waktu itu, maka ia akan bermata juling dan syaitan sangat suka kepada manusia yang bermata juling.” 
  3. “Wahai Ali..! janganlah bercakap-cakap semasa jima’, sesungguhnya jika Allah s.w.t. mengurniakan kepada kamu berdua anak dengan jima’ yang demikian, maka anak itu tidak selamat daripada bisu.” 
  4. “Wahai Ali..! janganlah berjima’ dengan perempuanmu dengan syahwat terhadap perempuan lain, maka sesungguhnya yang demikian itu jika Allah s.w.t. mengurniakan kepadamu berdua anak, anak itu akan menjadi pondan yang bersifat benci dan hina.” 
  5.  “Wahai Ali..! jika kamu berjunub di tempat tidur, janganlah membaca Al-Quran, maka sesungguhnya aku bimbang akan turun kepada kamu berdua api (bala) dari langit yang membakar kamu berdua.”
  6.  “Wahai Ali..! janganlah berjima’ dengan isterimu kecuali ada padamu satu tuala dan pada isterimu satu tuala.” 
  7. “Wahai Ali..! janganlah kamu berdua menyapu dengan menggunakan satu tuala, nanti akan jatuh syahwat keatas syahwat (salah seorang akan kuat syahwatnya daripada yang lagi satu), maka sesungguhnya yang demikian itu akan mengakibatkan permusuhan kemudian membawa kamu berdua kepada berpecah dan talak.” 
  8. “Wahai Ali..! janganlah berjima’ dengan isterimu pada malam ‘Aidil Fitri (Raya Puasa), maka sesungguhnya jika Allah s.w.t. mengurniakan kepada kamu berdua anak anak itu seorang yang cacat dan tidak mendapat anak baginya kecuali sudah tua.” 
  9.  “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu pada malam ‘Aidil Adha, maka sesungguhnya jika kamu berdua berjima’ pada malam tersebut, apabila Allah s.w.t. mengurniakan kepada kamu berdua anak aku bimbang ia akan menjadi seorang yang berjari enam atau empat.” 
  10.  “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu di bawah cahaya matahari (secara langsung – direct) dan terkena warna (cahayanya), kecuali kamu mengenakan tutupan (bumbung), jika tidak maka sesungguhnya kalau Allah mengurniakan kepada kamu berdua anak, nanti anak itu akan menjadi seorang sentiasa hidup dalam meminta-minta dan faqir sehingga mati.” 
  11.  “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu di bawah pohon kayu yang berbuah, maka sesungguhnya jika Allah s.w.t. mengurniakan kamu berdua anak, nanti anak itu akan menjadi seorang tukang gojo, tukang sebat atau seorang ketua yang bengis,” 
  12.  “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu sewaktu antara azan dan iqomah, jika berjima’ pada waktu demikian, sesungguhnya jika Allah mengurniakan anak pada kamu berdua, nanti ia menjadi seorang yang menumpahkan darah.” 
  13.  “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu semasa ia hamil kecuali kamu berdua berwudhu’, jika tidak maka sesungguhnya jika Allah s.w.t. mengurniakan kamu berdua anak, nanti ia akan menjadi seorang yang buta hati dan bakhil tangan.” 
  14. “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu pada pertengahan (Nisfu) Sya’ban, maka sesungguhnya yang demikian itu jika Allah s.w.t. mengurniakan kamu berdua anak,nanti anak itu akan mempunyai tanda yang jelek pada muka dan rambutnya.” 
  15. “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu pada akhir bulan (yakni tinggal dua hari) maka sesungguhnya yang demikian itu jika Allah s.w.t. mengurniakan kepada kamu berdua anak nanti anak tersebut menjadi seorang yang sentiasa perlu meminta-minta. “ 
  16.  “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu dengan syahwat terhadap saudara perempuannya ! (ipar kamu) kerana yang demikian itu sesungguhnya kalau Allah s.w.t. mengurniakan kepada kamu berdua anak, nanti anak itu akan menjadi penolong dan pembantu kepada orang yang zalim dan pada tangannya membuat kebinasaan kepada manusia.” 
  17.  “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu di atas loteng maka sesungguhnya yang demikian itu jika Allah s.w.t. mengurniakan anak kepada kamu berdua nanti anak itu menjadi seorang munafiq, pelampau yang melewati batas.” 
  18.  “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu pada malam kamu hendak keluar musafir kerana yang demikian itu sesungguhnya kalau Allah s.w.t. mengurniakan kepada kamu berdua anak, ia akan membelanjakan harta kepada yang tidak Haq,” dan Rasulullah s.a.w. membaca ayat Al-Quran : “Innal Mubazziriina kaanu – ikhwan Nas – Syayathin.” 
  19.  “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu bila kamu keluar bermusafir dalam tempoh tiga hari tiga malam, maka yang demikian itu sesungguhnya bila Allah s.w.t. mengurniakan kepada kamu berdua anak, nanti ia menjadi seorang pembantu kepada setiap orang yang zalim.” 
  20.  “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu pada awal malam, maka sesungguhnya jika dikurniakan anak kepada kamu berdua, ia menjadi seorang tukang sihir, sunglap, dan menghendaki dunia daripada akhirat.”
Sumber:
“WAHAI ALI PELIHARALAH WASIATKU INI SEBAGAIMANA AKU TELAH MEMELIHARANYA DARI JIBRIL A.S.”..1* (1*) Al-Ikhtisyaah, ms 132-135, As-Saduq, Al-Faqih ms 456, Al- Ilal ms 174.


Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template